PAUS
MENGHENDAKI AGAR PARA IMAM MENYAMPAIKAN KOTBAH YANG TIDAK BENGKOK
Seorang
umat datang kepada seorang romo sehabis misa dan berkata, “Romo, homilinya tadi
baik lho mo”. Romo hanya tersenyum dan
pada kesempatan lain menyampaikan kepada umat bahwa ia justru takut ketika umat
lebih tertarik pada homilinya ketimbang kehadiran Roh Kudus yang memberi rahmat
dalam misa itu. Tetapi, memang umat tetap membutuhkan homili seorang imam karena disitulah kesempatan bagi
seorang imam untuk menyampaikan pesan pastoral
kepada umatnya yang tak dapat tergantikan oleh seorang awam, sehebat
apapun seorang awam tersebut.
Oleh
karenanya Homili memang harus ada sehingga homili bagi seorang imam pada tiap
misa hari Minggu adalah sesuatu yang penting. Homili bukan tambahan, karena
homili adalah pewartaan kabar suka cita. Hal itu ditegaskan paus dalam anjuran
apostolik Evangelii Gaudium. Kata paus Homili harus menyampaikan pesan yang tajam, dan tidak membingungkan. Oleh
karenanya homili harus bersih, dan tidak boleh diboncengi atau bahkan sarana
penyampaian wacana yang bukan kabar suka cita.
Memang
banyak penyampai homili, yang berusaha menyenangkan audience, ada juga yang
bikin umat tertawa dan begitu menghibur dan itu memang tidak salah. Tetapi paus
mengingatkan bahwa keluh kesah, hiburan-hiburan kosong yant tak perlu dan upaya yang dibuat-buat harus
dicopot dari homili. Boleh saja homili
sambil melucu tetapi tetap tidak boleh
lupa bahwa misa adalah doa dan Roh Kudus satu-satunya aktor bukan penyampai
warta atau kepiawaian pribadi. Itulah yang dimaksud homili tidak bengkok.
Oleh
karenanya Paus Fransiskus menegaskan
bahwa kemampuan g ereja dalam menafsirkan sabda Allah hars terus bertumbuh sampai kepada kebenaran yang lurus dan benar.
Proporsi
warta menurut paus harus diperhatikan
baik-baik. Rahmat harus dibicarakan lebih banyak daripada gereja. Yang dimaksud Rahmad adalah
pemberian Tuhan yang Cuma-Cuma yang mengacu pada iman. Sementara Gereja
adalah jalan-jalan utama menuju Tuhan. Jadi dalam homili yang dibicarakan bukan
pertama-tama ketokohan seorang pribadi tetapi yang utama adalah sabda Allah.
Sabda Allah harus mendapat porsi lebih besar dibanding gereja, misal
membicarakan tentang Paus.
Maka paus memberi tawaran sebagai berikut:
1. Homili harus disiapkan, disampaikan secara
sederhana tanpa kehilangan kedalaman.
2. Isi pesan jauh lebih penting daripada cara
penyampaian pesan, metode.
3. Ajakan injil harus kuat untuk mengatasi
kecenderungan bahwa injil tak lagi menarik maka dibutuhkan kemampuan dari para
pewarta dalam mengintepretasikan sabda secara benar dan bertanggungjawa agar
pesan Injil sunguh sungguh menjadi kabar
yang menyukakan.
4. Homili menjadi ukuran kedekatan umat dengan
gembala, juga menjadi ukuran kedekatan sang gembala kepada Kristus.
5. Paus merekomendasikan kepada para imam hal –hal praktis
sbb :
-
Homili
sebaiknya harus disampaikan dengan bahasa yang dimengerti umat.
-
Saat homili
selalu menyampaikan hal kongkret sebagai usul tindakan yang baik.
-
Seandainya ada
sesuatu yang negatif yang terpaksa harus disampaikan, sebisa mungkin
menyampaikannya secara positif supaya homili berubah semacam rentetan keluhan,
ratapan, kritik bahkan umpatan.
-
Homili bukanlah
suatu pertunjukan hiburan. Homili adalah kesaksian atas sabda dan kehidupan
memberi hidup dan makna pada perayaan ekaristi.
-
Homili hendak
disampaikan ssecara singkat dan padat dengan menghindari gaya penyampaian
seperti pidato atau penyampaian materi
suatu kuliah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar