Kamis, 20 Oktober 2016

PAUS MENGHENDAKI AGAR PARA IMAM MENYAMPAIKAN KOTBAH YANG TIDAK BENGKOK

Seorang umat datang kepada seorang romo sehabis misa dan berkata, “Romo, homilinya tadi baik lho mo”.  Romo hanya tersenyum dan pada kesempatan lain menyampaikan kepada umat bahwa ia justru takut ketika umat lebih tertarik pada homilinya ketimbang kehadiran Roh Kudus yang memberi rahmat dalam misa itu. Tetapi, memang umat tetap membutuhkan homili  seorang imam karena disitulah kesempatan bagi seorang imam untuk menyampaikan pesan pastoral  kepada umatnya yang tak dapat tergantikan oleh seorang awam, sehebat apapun seorang awam tersebut.

Oleh karenanya Homili memang harus ada sehingga homili bagi seorang imam pada tiap misa hari Minggu adalah sesuatu yang penting. Homili bukan tambahan, karena homili adalah pewartaan kabar suka cita. Hal itu ditegaskan paus dalam anjuran apostolik Evangelii Gaudium. Kata paus Homili harus menyampaikan  pesan yang tajam, dan tidak membingungkan. Oleh karenanya homili harus bersih, dan tidak boleh diboncengi atau bahkan sarana penyampaian wacana yang bukan kabar suka cita.

Memang banyak penyampai homili, yang berusaha menyenangkan audience, ada juga yang bikin umat tertawa dan begitu menghibur dan itu memang tidak salah. Tetapi paus mengingatkan bahwa keluh kesah, hiburan-hiburan kosong yant  tak perlu dan upaya yang dibuat-buat harus dicopot dari homili. Boleh saja  homili sambil melucu tetapi tetap tidak  boleh lupa bahwa misa adalah doa dan Roh Kudus satu-satunya aktor bukan penyampai warta atau kepiawaian pribadi. Itulah yang dimaksud homili tidak bengkok.

Oleh karenanya  Paus Fransiskus menegaskan bahwa kemampuan g ereja dalam menafsirkan sabda Allah hars terus bertumbuh  sampai kepada kebenaran yang  lurus dan benar.

Proporsi warta menurut paus  harus diperhatikan baik-baik. Rahmat harus dibicarakan lebih banyak daripada gereja. Yang dimaksud  Rahmad adalah  pemberian Tuhan  yang Cuma-Cuma  yang mengacu pada iman. Sementara Gereja adalah jalan-jalan utama menuju Tuhan. Jadi dalam homili yang dibicarakan bukan pertama-tama ketokohan seorang pribadi tetapi yang utama adalah sabda Allah. Sabda Allah harus mendapat porsi lebih besar dibanding gereja, misal membicarakan tentang Paus.

Maka paus memberi tawaran sebagai berikut:
1.  Homili harus disiapkan, disampaikan secara sederhana tanpa kehilangan kedalaman.
2.  Isi pesan jauh lebih penting daripada cara penyampaian pesan, metode.
3.  Ajakan injil harus kuat untuk mengatasi kecenderungan bahwa injil tak lagi menarik maka dibutuhkan kemampuan dari para pewarta dalam mengintepretasikan sabda secara benar dan bertanggungjawa agar pesan Injil sunguh  sungguh menjadi kabar yang menyukakan.
4.  Homili menjadi ukuran kedekatan umat dengan gembala, juga menjadi ukuran kedekatan sang gembala kepada Kristus.
5.  Paus merekomendasikan kepada para imam hal –hal praktis sbb :
-    Homili sebaiknya harus disampaikan dengan bahasa yang dimengerti umat.
-    Saat homili selalu menyampaikan hal kongkret sebagai usul tindakan yang baik.
-    Seandainya ada sesuatu yang negatif yang terpaksa harus disampaikan, sebisa mungkin menyampaikannya secara positif supaya homili berubah semacam rentetan keluhan, ratapan, kritik bahkan umpatan.
-    Homili bukanlah suatu pertunjukan hiburan. Homili adalah kesaksian atas sabda dan kehidupan memberi hidup dan makna pada perayaan ekaristi.
-    Homili hendak disampaikan ssecara singkat dan padat dengan menghindari gaya penyampaian seperti pidato  atau penyampaian materi suatu kuliah

Lebih daripada pelbagai macam teori  tentang homili, pada hakekatnya homili adalah kesaksian hidup. Homili menjadi hampa dan kosong jika wacana atau kata-kata yang disampaikan tak ditemukan dalam teladan kesaksian hidup sehari-hari sang penyampai homili

Tidak ada komentar:

Posting Komentar