MENJADI PRIBADI YANG MAU DIPECAH-PECAH
Henri JM Nouwen lewat bukunya edisi Indonesia yang
berjudul “Diambil Diberkati dipecah dan
dibagikan “ menulis bahwa kita adalah pribadi
dipecah-pecahkan, yaitu kehidupan yang bisa diraba, yang kelihatan. Tetapi di dalam komunitas kita adalah persekutuan yang diberkati.
Tulisannya adalah sebagian dari pengalaman rohaninya.
Sejak ditahbiskan imam untuk keuskupan Agung Utrecht, karier Newman boleh dibilang meroket ia pun penulis
buku rohani yang handal. Ia terbang
ke Amerika untuk menggeluti ilmu
Psikologi setelah sebelumnya ia lulus dari Universitas
Katolik Nijmegen (Belanda). Kemudian
ia kembali ke Belanda dan meraih gelar doktor. Selanjutnya ia kembali ke
Amerika dan menjadi dosen teologi Pastoral di Universitas Yale. Tak dapat dipungkiri, ia adalah pastor
yang sukses secara akademis, kariernya meroket.
Tetapi justru di puncak prestasinya itulah Newman mengalami hidup yang ‘terpecah-pecah”. Ia mengalami kecemasan yang hebat. Ada pertanyaan mendalam yang menyangkut
hidupnya yang tak dapat ia jawab. semua itu justru memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru yang
malah membingungkannya. Tetapi bagi Newman Pendalaman iman justru ketika ia membiarkan
pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul, meskipun sulit mencari jawabannya, membuka cakrawala
kehidupan baru dan semakin luas.
Sifat terpecah – pecah itu bisa dialami banyak orang. Dalam
sebuah suratnya kepada Newman, seseorang pernah menceritakan kehdupannya yang
berpisah dengan pasangan hidupnya dan harus bercerai. Banyak orang juga
mengalami situasi yang tidak ideal, ada beban dalam pekerjaan ada beban dalam rumah tangga. Persoalan-
persoalan itu membuat kita kehabisan
daya dan putus asa. Itulah situasi yang
terpecah-pecah. Keadaan itu sesungguhnya belum seberapa dengan keadaan
terpecah-pecah yang lain yaitu kematian, karena manusia juga tak mungkin
membebaskan diri dari kematian.
Newman menunjukkan bahkan para pemimpin dan para nabi
Israel yang jelas terpilih dan terberkati pun semua menjalani hidup yang
terpecah-pecah. Keadaan pribadi yang terpecah-pecah menyatakan sesuatu yaitu
siapakah diri kita yang terpecah-pecah.
Menurut Newman, penderitaan dan rasa sakit kita bukanlah sekedar selingan dalam hidup kita, penderitaan dan rasa sakit
itu menyentuh kita dalam keunikan pribadi dan batin kita yang paling dalam. Jika
seseorang membagikan penderitaan itu kepada orang lain, maka anda membagikan
sebagian hidupmu kepada orang lain. Nah penderitaan kita yang kita sadari
sebagai keterpecahan kita hayati dan kita alami sesbagai yang amat
pribadi dan amat unik. Newman yakin bahwa setiap pribadi menderita dengan cara
khusus yang tidak pernah akan sama dengan orang lain, walau kita dapat
membanding-bandingkan. Kita harus lebih berterima kasih kepada orang yang dapat
mengerti bahwa saya merasa sendiri dalam penderitaan saya daripada bahwa ada
banyak orang yang mengalami penderitaan yang sama atau bahkan lebih berat.
Keterpecahan yang unik dan pribadi itu merupakan ungkapan kekususan pribadi kita yang dipilih dan diberkati. Corak keterpecahan kita merupakan ungkapan kekhususan pribadi kita
sebaaimana halnya corak diri kita sebagai pribadi yang dipilih dan diberkati. Kita
dindang untuk mengakui pribadi kita terpecah itu, sebagaimana halnya kita mengakui keadaan pribadi kita yang diberkati.
Dalam pandangan Newman, penderitaan orang cacat fisik dan
cacat mental sejatinya tak sehebat penderitaan akibat hubungan yang hancur antara suami istri, anak
dan orang tua, antara pribadi yang saling mencintai, antara kawan dan sahabat. Di
dunia barat penderitaan yang paling berat adalah penderitaan karena merasa
ditolak, tidak diperhitungkan, diremehkan
dan ditinggalkan sendirian.
Terhadap situasi yang seperti ini bukanlah langkah untuk
menjauhi penderitaan melainkan langkah
mendekatinya. Kita harus melawan rasa takut dan mengakrabinya. Dan untuk sembuh
dari rasa takut menghadapinya dan
mengakrabinya, bukan dengan cara untuk menghindar.
Dan yang terpenting bagi Newman penderitaan bukan jadi
hambatan untuk mengalami kegembiraan dan damai yang didambakan, tetapi justru
menjadi jalan menuju kegembiraan. Rahasia Kehidupan Rohani anak-anak yang dicintai oleh Allah bahwa
segala sesuatu yang kita hidupi , entah itu kegembiraaan atau kesusahan , suka
cita atau penderitaan, sehat atau sakit
dapat menjadi jalan menuju keutuhanan kemanusiaan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar