Minggu, 16 Oktober 2016

MENJADI PRIBADI YANG MAU DIPECAH-PECAH

Henri JM Nouwen lewat bukunya edisi Indonesia yang berjudul  “Diambil Diberkati dipecah dan dibagikan “ menulis bahwa kita adalah pribadi  dipecah-pecahkan, yaitu kehidupan yang bisa diraba, yang kelihatan. Tetapi di dalam komunitas kita adalah persekutuan yang diberkati.

Tulisannya adalah sebagian dari pengalaman rohaninya. Sejak ditahbiskan imam untuk keuskupan Agung Utrecht, karier  Newman boleh dibilang meroket ia pun penulis buku rohani yang handal. Ia   terbang ke Amerika untuk menggeluti  ilmu Psikologi setelah sebelumnya ia lulus dari Universitas  Katolik Nijmegen (Belanda).  Kemudian ia kembali ke Belanda dan meraih gelar doktor. Selanjutnya ia kembali ke Amerika dan menjadi dosen teologi Pastoral di Universitas  Yale. Tak dapat dipungkiri, ia adalah pastor yang sukses secara akademis, kariernya meroket.  Tetapi justru di puncak prestasinya itulah Newman  mengalami hidup yang ‘terpecah-pecah”.  Ia mengalami kecemasan yang hebat.  Ada pertanyaan mendalam yang menyangkut hidupnya yang tak dapat ia jawab. semua itu justru memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru yang malah membingungkannya. Tetapi bagi Newman Pendalaman iman justru ketika ia membiarkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul, meskipun sulit mencari  jawabannya, membuka cakrawala kehidupan baru  dan semakin luas.

Sifat terpecah – pecah itu bisa dialami banyak orang. Dalam sebuah suratnya kepada Newman, seseorang pernah menceritakan kehdupannya yang berpisah dengan pasangan hidupnya dan harus bercerai. Banyak orang juga mengalami situasi yang tidak ideal, ada beban dalam  pekerjaan ada beban dalam rumah tangga. Persoalan- persoalan itu  membuat kita kehabisan daya dan putus asa. Itulah situasi yang  terpecah-pecah. Keadaan itu sesungguhnya belum seberapa dengan keadaan terpecah-pecah yang lain yaitu kematian, karena manusia juga tak mungkin membebaskan diri dari kematian.

Newman menunjukkan bahkan para pemimpin dan para nabi Israel yang jelas terpilih dan terberkati pun semua menjalani hidup yang terpecah-pecah. Keadaan pribadi yang terpecah-pecah menyatakan sesuatu yaitu siapakah diri kita yang terpecah-pecah.

Menurut Newman, penderitaan  dan rasa sakit kita bukanlah sekedar selingan  dalam hidup kita, penderitaan dan rasa sakit itu menyentuh kita dalam keunikan pribadi dan batin kita yang paling dalam. Jika seseorang membagikan penderitaan itu kepada orang lain, maka anda membagikan sebagian  hidupmu kepada orang lain.  Nah penderitaan kita yang kita sadari sebagai  keterpecahan  kita hayati dan kita alami sesbagai yang amat pribadi dan amat unik. Newman yakin bahwa setiap pribadi menderita dengan cara khusus yang tidak pernah akan sama dengan orang lain, walau kita dapat membanding-bandingkan. Kita harus lebih berterima kasih kepada orang yang dapat mengerti bahwa saya merasa sendiri dalam penderitaan saya daripada bahwa ada banyak orang yang mengalami penderitaan yang sama atau bahkan lebih berat.

Keterpecahan yang unik dan pribadi itu merupakan  ungkapan kekususan  pribadi kita yang dipilih dan diberkati.  Corak keterpecahan kita  merupakan ungkapan kekhususan pribadi kita sebaaimana halnya corak diri kita sebagai pribadi yang dipilih dan diberkati. Kita dindang untuk mengakui pribadi kita terpecah itu, sebagaimana halnya kita  mengakui keadaan pribadi kita  yang diberkati.

Dalam pandangan Newman, penderitaan orang cacat fisik dan cacat mental sejatinya tak sehebat penderitaan akibat  hubungan yang hancur antara suami istri, anak dan orang tua, antara pribadi yang saling mencintai, antara kawan dan sahabat. Di dunia barat penderitaan yang paling berat adalah penderitaan karena merasa ditolak, tidak diperhitungkan, diremehkan  dan ditinggalkan sendirian.

Terhadap situasi yang seperti ini bukanlah langkah untuk menjauhi penderitaan  melainkan langkah mendekatinya. Kita harus melawan rasa takut dan mengakrabinya. Dan untuk sembuh dari rasa takut  menghadapinya dan mengakrabinya, bukan dengan cara untuk menghindar.


Dan yang terpenting bagi Newman penderitaan bukan jadi hambatan untuk mengalami kegembiraan dan damai yang didambakan, tetapi justru menjadi jalan menuju kegembiraan. Rahasia Kehidupan Rohani  anak-anak yang dicintai oleh Allah bahwa segala sesuatu yang kita hidupi , entah itu kegembiraaan atau kesusahan , suka cita atau penderitaan, sehat atau sakit  dapat menjadi jalan menuju keutuhanan kemanusiaan kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar